Rabu, 28 Desember 2011

Sekilas Tentang Vespa


Piaggio dibangun oleh pemuda berusia 24 tahun bernama Rinaldo Piaggio di 1884 dengan memproduksi kapal mewah, kereta, mesin hingga body truk. Terjadinya Perang Dunia 1 membawa perubahan terhadap aktivitas Piaggio selama beberapa decade. Mereka mulai memproduksi pesawat dan seaplanes alias pesawat yang memiliki kemampuan mendarat di atas air. Untuk menunjang produksinya, mereka membutuhkan fasilitas produksi yang lebih banyak. Di 1917 Piaggio membangun pabrik baru di Pisa, diikuti oleh pabrik di Pontedera empat tahun berikutnya. Sebelum dan sesudah Perang Dunia II, Piaggio menjadi salah satu produsen pesawat terbaik di Italia sebelum akhirnya pabriknya hancur akibat perang.

Lepas perang berakhir, Putra Rinaldo Piaggio, Enrico dan Armando membangun kembali pabrik di Pontedera yang luluh lantah. Setelah membawa mesin dari pabrik Biella, Enrico kembali memproduksi sebuah produk yang fokus  terhadap mobilitas personal. Dia menggunakan sebagian intuisinya untuk mengembangkan kendaraan dengan desain luar biasa berkat tangan dingin insinyur aeronautika, Corradino D’Ascanio.  Vespa – yang dalam bahasa Italia berarti Lebah merupakan buah dari determinasi Enrico Piaggio yang bersikeras untuk membuat sebuah produk dengan biaya rendah.

Selama lebih dari 6 dekade mendominasi segmen skuter, Vespa hingga saat ini menjadi contoh unik industri desain yang tidak akan pernah mati. Berkat inovasi baik teknologi maupun desain yang telah dituangkan telah membuat produk Vespa lambat laun berubah dari sebuah produk transportasi menjadi salah satu bagian dari sejarah sosial.

Vespa merupakan simbol dari kreativitas ala Italia yang termashyur di seluruh dunia yang dibuktikan oleh kesuksesan penjualan dari tahun ke tahun. Vespa juga terkenal sebagai salah satu merk yang bernaung di bawah payung Piaggio Group yang bermarkas di Pontedera (Pisa) dan menjadi salah satu pimpinan manufaktur roda dua di dunia.

Piaggio Group secara global memiliki beberapa pabrik, antara lain: Pontedera (Pisa) yang memproduksi merk Piaggio, Vespa dan Gilera; Scorze (Venice) tempat memproduksi Aprilia dan Scarabeo; Mandello del Lario (Lecco) untuk merk Moto Guzzi; Baramati (India) yang memproduksi light-commercial vehicles roda tiga dan empat untuk pasar India; dan Vinh Phuc (Vietnam) tempat pembuatan skuter Vespa untuk pasar lokal dan ASEAN. Rentang produksi Piaggio Group meliputi skuter, sepeda motor dan moped mulai dari kapasitass 50 hingga 1.200 cc yang dijual dibawah merk Piaggio, Vespa, Gilera, Aprilia, Moto Guzzi, Derbi dan Scarabeo. Piaggio Grup juga merupakan manufaktur untuk light commercial vehicles roda tiga dan empat dengan merk Ape, Porter dan Quargo.

Piaggio (1884 - Sekarang)

Piaggio adalah merk sepeda motor Itali yang bermarkas di PontederaItaly.   Perusahaan Piaggio & C. SpA meliputi tujuh merek skuter dan sepeda motor, yaitu Aprilia, Derbi, Gilera, Ligier, Moto Guzzi, Piaggio, dan Vespa.   Sebagai produsen terbesar keempat skuter dan sepeda motor di dunia, Piaggio memproduksi lebih dari 600.000 kendaraan per tahun, dengan lima pusat penelitian dan pengembangan, lebih dari 6.700 karyawan dan beroperasi di lebih dari 50 negara.

Insinyur aeronautika Corradino D’Ascanio yang bertanggung jawab akan desain dan konstruksi dari helikopter modern pertama Agusta, diminta oleh Enrico Piaggio untuk menciptakan sebuah kendaraan sederhana, kuat dan terjangkau.   Kendaraan itu harus mudah dikendarai untuk pria dan wanita, mampu membawa penumpang, dan tidak membuat pakaian pengendaranya kotor.   Seperti diketahui, motor lain pada umumnya bisa membuat pengendara dengan mudah terciprat lumpur atau air dari depan maupun belakang.   Setelah mengalami proses internal, akhirnya pada tahun 1946 Piaggio meluncurkan skuter Vespa legendaris (bahasa Italia untuk “tawon”).  

 

Dalam jangka waktu satu dasawarsa, vespa pertama ini berhasil diproduksi lebih dari satu juta unit yang membuktikan bahwa bentuk ‘tawon’ tersebut sangat bisa diterima oleh masyarakat saat itu. 

 


Selain kesuksesan Italia dalam menjadi perintis bentuk motor ala ‘tawon’ itu, bahasa Italia juga mendapatkan kosa kata baru, yaitu “vespare” yang berarti pergi ke suatu tempat menggunakan Vespa.

 


Pada tahun 1957, dengan cash flow yang kuat yang berasal dari keberhasilan Vespa tersebut, Piaggio berhasil mengembangkan produk lain termasuk Vespa 400 yang merupakan sebuah mobil penumpang kecil. 

 


Pada tahun 1959, Piaggio berada di bawah kendali keluarga Agnelli, pemilik pembuat mobil Fiat SpA.

Pada tahun 1959, Piaggio berada di bawah kendali keluarga Agnelli, pemilik pembuat mobil Fiat SpA.
Pada tahun 1964, karena Fiat mempunyai kepemilikan yang luas dalam dunia dunia industri Italia, dua divisi usahanya (yaitu penerbangan dan sepeda motor) dibagi menjadi dua perusahaan independen.  Nama divisi penerbangannya adalah IAM Rinaldo Piaggio.   Saat ini, perusahaan Piaggio Aero dikendalikan oleh keluarga Piero Ferrari, yang juga masih memegang 10% saham dari pembuat mobil terkenal Ferrari.
Pada 1967, Piaggio mengeluarkan moped Ciao 50 cc yang diproduksi hingga tahun 2006.


 

Pada tahun 1969, perusahaan membeli  Gilera.

Vespa di Indonesia
Vespa masuk ke Indonesia pada tahun 1960 melalui ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merk) PT Danmotors Vespa Indonesia/DVI di Pulo Gadung Jakarta yang sekarang sudah tidak aktif lagi (sekarang dipegang oleh PT Sentra Kreasi Niaga/SKN sebagai dealer utama saja.  Note: Bukan importir atau distributor eksklusif).
Vespa saat itu mempunyai prestise yang sangat tinggi, terbukti dengan harga vespa saat itu setara dengan harga sebuah rumah tipe standar.  Seiring dengan penetrasi Honda ke pasar dunia yang turut menggoyahkan berbagai merk motor, Indonesia ternyata tidak luput dari fenomena tersebut.  Vespa menjadi salah satu merk sepeda motor yang ‘tergusur’ oleh motor Jepang, meski pada awalnya harga vespa Sprint saat itu bahkan sedikit lebih mahal daripada motor Honda CB 200 Twin Cakram yang saat itu merupakan motor Honda paling mahal.

Ada banyak kajian mengapa vespa kesulitan menggenjot kuantitasnya di Indonesia baik sejak awal hingga hari ini.
  • Sebenarnya segmentasi pasar Vespa tidak terlalu diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas (bisa dilihat pada daftar harga di atas) karena ada beberapa tipe motor merk lain yang jauh lebih mahal sehingga masalah harga bukan merupakan alasan.   Mungkin lebih karena bentuk vespa yang khas rupanya hanya disukai orang-orang tertentu saja.
  • Prestise vespa juga turun karena ada perusahaan farmasi yang memakai vespa sebagai kendaraan operasionalnya yang mengakibatkan konsumen enggan memakai vespa karena tidak mau dikira penjual obat.
  • Vespa bersama sebagian besar motor klasik lainnya sedunia tergeser oleh motor Jepang yang lebih irit, praktis, dan murah sementara vespa tidak menawarkan perubahan teknologi dan model yang cukup berarti.
  • Kondisi sebagian besar vespa di Indonesia saat ini banyak yang tidak terawat.  Jika kita melihat ada sepeda motor dituntun di jalan karena mogok, hampir selalu dipastikan itu adalah vespa.  Otomatis persepsi kualitas vespa dipandang masyarakat semakin rendah, tidak peduli seberapa mahal harganya.   Survei MarkPlus Professional Services bersama SWA di 5 kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa persepsi kualitas Vespa berada di bawah Honda dan Yamaha.
Salah satu usaha perbaikan image oleh merk ini, mungkin, adalah dengan mengeluarkan vespa mewah beroda tiga berdesain lux berharga setara dengan sebuah mobil.

Sumber : http://www.id.vespa.com/
              http://motorlama.com

Selasa, 27 Desember 2011

  SEJARAH KOTA YOGYAKARTA 

TUGU JOGJA (Photo by Yanoe PhotoGraph)
Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755.

Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton.

Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan.

Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756

Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu
Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945.  Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional

Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan massih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.  Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta.
Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas.  Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang.  DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955.
Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta.

Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah.  Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengankatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliiau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII.  Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain.

Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab.  Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut denan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.

sumber: www.jogjakota.go.id

Selasa, 20 Desember 2011

Sejarah Volkswagen

Volkswagen (biasa disingkat VW) adalah sebuah pabrikan otomotif berbasis di Wolfsburg, Lower Saxony, Jerman. Volkswagen didirikan oleh Serikat Buruh Jerman (Deutsche Arbeitsfront) pada tahun 1937. Volkswagen merupakan merk asli dari Volkswagen Group, yang juga membawahi beberapa merk mobil lain seperti Audi, Bentley Motors,Bugatti Automobiles, Automobili Lamborghini, SEAT, Škoda dan sebuah pabrikan kendaraan komersial Scania. Tahun 2009, Supervisory Board dari Volkswagen AG mengesahkan pendirian sebuah grup otomtif yang terintegrasi dengan Porsche di bawah naungan Volkswagen.
Nama Volkswagen sendiri mempunyai "mobil rakyat". Tagline Volkswagen saat ini adalah Das Auto (dalam bahasa Inggris The Car). Moto sebelumnya adalah Aus Liebe zum Automobil (artinya : Kecintaan kepada Mobil).
Dalam bahasa Jerman, "Volkswagen" berarti "mobil rakyat".

Latar Belakang Munculnya Volkswagen

        Volkswagen awalnya didirikan pada tahun 1937 oleh serikat dagang Nazi, yaitu Serikat Buruh Jerman (Deutsche Arbeitsfront).[1] Sampai pada awal 1930-an pabrikan otomotif Jerman masih banyak terdiri dari pabrikan mobil mewah, dan rata-rata orang Jerman tidak bisa membeli lebih daripada sebuah motor. Melihat sebuah pasar potensial, beberapa pabrikan mobil membuat proyek mereka sendiri-sendiri untuk “mobil rakyat” seperti Mercedes' 170H, Adler AutoBahn, Steyr 55, Hanomag 1.3L, dan lainnya. Tren ini sebenarnya bukanlah tren baru, karena Béla Barényi sudah tercatat sebagai pendesain pertama "mobil rakyat" di pertengahan 1920-an. Josef Ganz sendiri mengembangkan Standard Superior (dan di iklan disebutnya "Mobil Rakyat Jerman" (German Volkswagen)).[2][rujukan rusak] Selain itu, di Cekoslowakia, Hans Ledwinka juga mengembangkan Tatra T77, mobil yang sangat populer di kalangan elit Jerman. Mobil ini belakangan menjadi semakin kecil dan harganya semakin terjangkau. Tapi, sampai tahun 1933, banyak dari proyek tersebut masih dalam pengembangan atau produksi tahap awal. Adolf Hitler menyatakan akan membuat sebuah “mobil rakyat” (Volkswagen). Hitler menginginkan sebuah mobil standar berkapasitas 2 dewasa dan 3 anak dan berkecepatan 100 km/jam (62 mil/jam). Mobil rakyat ini nantinya akan tersedia bagi rakyat Nazi dengan harga 990 Reichsmark, seharga sebuah motor kecil pada saat itu (pendapatan rata-rata penduduk saat itu sekitar 32 Reichsmark per minggu).[3]
Insinyur yang terpilih untuk mengembangkan projek mobil ini adalah Ferdinand Porsche. Pada saat itu Porsche sudah menjadi desainer Mercedes 170H dan juga pernah bekerja pada Steyr untuk beberapa saat akhir 1920an. Porsche membuka studio desain pertamanya dan kemudian membuat proyek "Auto für Jedermann" (mobil untuk semua) dengan NSU dan Zündapp, keduanya merupakan pabrikan motor. 22 Juni 1934, Dr. Ferdinand Porsche setuju untuk membuatkan mobil rakyat tersebut untuk Hitler.
Maka, perubahan pun dimulai dengan diusahakannya perbaikan pada efisiensi bahan bakar, daya tahan, penggunaan mudah, dan suku cadang yang murah dan efisien. Pada skema bantuan yang diberikan pemerintah pada rakyat Jerman, terdapat kata-kata ("Fünf Mark die Woche musst Du sparen, willst Du im eigenen Wagen fahren" – "Lima marks per minggu harus kamu simpan, jika kamu mau mengendarai mobil milikmu sendiri").Prototipe mobil tersebut muncul tahun 1936 dengan nama “KdF-Wagen” yang dibuat di Stuttgart. Mesinnya sudah berpendingin udara, 4 silinder, dan terletak di belakang. Nama perusahaan pun dibuat dengan nama Gesellschaft zur Vorbereitung des Deutschen Volkswagens mbH pada 28 Mei 1937. Tanggal 16 September 1938 namanya diganti menjadi "Volkswagenwerk GmbH".


VW Type 82E
Erwin Komenda, desainer dari Auto Union, mengembangkan bodi mobil ini, yang sekarang dikenal dengan bentuk Beetle yang unik. Mobil ini merupakan salah satu mobil pertama yang disempurnakan menggunakan terowongan angin.
Bangunan pabriknya sendiri dimulai 26 Mei 1938 di sebuah kota bernama KdF-Stadt (sekarang Wolfsburg). Sayangnya pabrik ini hanya memproduksi sedikit mobil karena Perang Dunia II pecah pada 1939. Salah satu produksinya, Type 1 Cabriolet dipersembahkan pada Hitler tanggal 20 April 1938, di ulang tahun Hitler ke 49. Ketika Perang Dunia II mulai, pabrik tersebut digunakan untuk memproduksi kendaraan militer. Pabrik digunakan untuk tempat memproduksi mobil Type 82 Kübelwagen (Model mobil perang VW yang paling terkenal) dan mobil amfibi Schwimmwagen. Tapi, pertengahan perang, kota KdF-Stadt beserta pabriknya di bom hingga rusak berat.