Rabu, 23 November 2011

Ciri-ciri Orang Berdasarkan Golongan Darah

SIFAT SECARA UMUM

Yg paling gampang ngaret soal waktu
1 B (krn nyantai terus)
2 O (krn flamboyan)
3 AB (krn gampang ganti program)
4 A (krn gagal dalam disiplin)

Yg paling susah mentolerir kesalahan org :
1 A (krn perfeksionis dan narsismenya terlalu besar)
2 B (krn easy going tapi juga easy judging)
3 AB (krn asal beda)
4 O (easy judging tapi juga easy pardoning)

Yg paling bisa dipercaya :
1 A (krn konsisten dan taat hukum)
2 O (demi menjaga balance)
3 B (demi menjaga kenikmatan hidup)
4 AB (mudah ganti frame of reference)

Yg paling disukai utk jadi teman :
1 O (orangnya sportif)
2 A (selalu on time dan persis)
3 AB (kreatif)
4 B (tergantung mood)

Kebalikannya, teman yg paling disebelin/tidak disukai:
1 B (egois, easy come easy go, maunya sendiri)
2 AB (double standard)
3 A (terlalu taat dan scrupulous)
4 O (sulit mengalah)

MENYANGKUT OTAK DAN KEMAMPUAN
Yg paling mudah kesasar/tersesat
1 B
2 A
3 O
4 AB

Yg paling banyak meraih medali di olimpiade olah raga:
1 O (jago olah raga)
2 A (persis dan matematis)
3 B (tak terpengaruh pressure dari sekitar. Hampir seluruh atlet
judo, renang dan gulat jepang bergoldar B)
4 AB (alergi pada setiap jenis olah raga)

Yg paling banyak jadi direktur dan pemimpin
1 O (krn berjiwa leadership dan problem-solver)
2 A (krn berpribadi “minute” dan teliti)
3 B (krn sensitif dan mudah ambil keputusan)
4 AB (krn kreatif dan suka ambil resiko)

Yg jadi PM jepang rata2 bergolongan darah
1 O (berjiwa pemimpin)
Mahasiswa Tokyo Univ pada umumnya bergol darah : B

Yg paling gampang nabung :
1 A (suka menghitung bunga bank)
2 O (suka melihat prospek)
3 AB (menabung krn punya proyek)
4 B (baru menabung kalau punya uang banyak)

Yg paling kuat ingatannya
1 O
2 AB
3 A
4 B

Yg paling cocok jadi MC :
1 A (kaya planner berjalan)

MENYANGKUT KESEHATAN
Yg paling panjang umur :
1 O (gak gampang stress, antibodynya paling joss!)
2 A (hidup teratur)
3 B (mudah cari kompensasi stress)
4 AB (amburadul)

Yg paling gampang gendut
1 O (nafsu makan besar, makannya cepet lagi)
2 B (makannya lama, nambah terus, dan lagi suka makanan enak)
3 A (hanya makan apa yg ada di piring, terpengaruh program diet)
4 AB (Makan tergantung mood, mudah kena anoressia)

Paling gampang digigit nyamuk :
O (darahnya manis)

Yg paling gampang flu/demam/batuk/pilek
1 A (lemah terhadap virus dan pernyakit menular)
2 AB (lemah thd hygiene)
3 O (makan apa saja enak atau nggak enak)
4 B (makan, tidur nggak teratur)

Apa yg dibuat pada acara makan2 di sebuah pesta :
O (banyak ngambil protein hewani, pokoknya daging2an)
A (ngambil yg berimbang. 4 sehat 5 sempurna)
B (suka ambil makanan yg banyak kandungan airnya spt soup, soto,
bakso dsb)
AB (hobby mencicipi semua masakan, “aji mumpung”)

Yg paling cepat botak :
1 O
2 B
3 A
4 AB

Yg tidurnya paling nyenyak dan susah dibangunin :
1 B (tetap mendengkur meski ada Tsunami)
2 AB (jika lagi mood, sleeping is everything)
3 A (tidur harus 8 jam sehari, sesuai hukum)
4 O (baru tidur kalau benar2 capek dan membutuhkan)

Yg paling cepet tertidur
1 B (paling mudah ngantuk, bahkan sambil berdiripun bisa tertidur)
2 O (Kalau lagi capek dan gak ada kerjaan mudah ken ngantuk)
3 AB (tergantung kehendak)
4 A (tergantung aturan dan orario)

Penyakit yg mudah menyerang :
A (stress, majenun/linglung)
B (lemah terhadap virus influenza, paru-paru)
O (gangguan pencernaan dan mudah kena sakit perut)
AB (kanker dan serangan jantung, mudah kaget)

Apa yg perlu dianjurkan agar tetap sehat :
A (Krn terlalu perfeksionis maka nyantailah sekali-kali, gak usah
terlalu tegang dan serius)
B (Krn terlalu susah berkonsentrasi, sekali-kali perlu serius
sedikit, meditasi, main catur)
O (Krn daya konsentrasi tinggi, maka perlu juga mengobrol santai,
jalan-jalan)
AB (Krn gampang capek, maka perlu cari kegiatan yg menyenangkan dan
bikin lega).

Yg paling sering kecelakaan lalu lintas (berdasarkan data
kepolisian)
1 A
2 B
3 O
4 AB

Kesimpulan :
Gologan darah A
1. Biasanya orang yang bergolongan darah A ini berkepala dingin, serius, sabar dan kalem atau cool, bahasa kerennya.
2. Orang yang bergolongan darah A ini mempunyai karakter yang tegas, bisa di andalkan dan dipercaya namun keras kepala.
3. Sebelum melakukan sesuatu mereka memikirkannya terlebih dahulu. Dan merencanakan segala sesuatunya secara matang. Mereka mengerjakan segalanya dengan sungguh-sungguh dan secara konsisten.
4. Mereka berusaha membuat diri mereka se wajar dan ideal mungkin.
5. Mereke bisa kelihatan menyendiri dan jauh dari orang-orang.
6. mereka mencoba menekan perasaan mereka dan karena sering melakukannya mereka terlihat tegar. Meskipun sebenarnya mereka mempunya sisi yang lembek seperti gugup dan lain sebagainya.
7. Mereka cenderung keras terhadap orang-orang yang tidak sependapat. Makanya mereka cenderung berada di sekitar orang-orang yang ber’temperamen’ sama.

Gologan darah B
1. Orang yang bergolongan darah B ini cenderung penasaran dan tertarik terhadap segalanya.
2. Mereka juga cenderung mempunyai terlalu banyak kegemaran dan hobby. Kalau sedang suka dengan sesuatu biasanya mereka menggebu-gebu namun cepat juga bosan.
3. Tapi biasanya mereka bisa memilih mana yang lebih penting dari sekian banyak hal yang di kerjakannya.
4. Mereka cenderung ingin menjadi nomor satu dalam berbagai hal ketimbang hanya dianggap rata-rata. Dan biasanya mereka cenderung melalaikan sesuatu jika terfokus dengan kesibukan yang lain. Dengan kata lain, mereka tidak bisa mengerjakan sesuatu secara berbarengan.
5. Mereka dari luar terlihat cemerlang, riang, bersemangat dan antusias. Namun sebenarnya hal itu semua sama sekali berbeda dengan yang ada didalam diri mereka.
6. Mereka bisa dikatakan sebagai orang yang tidak ingin bergaul dengan banyak orang.

Gologan darah O
1. Orang yang bergolongan darah O, mereka ini biasanya berperan dalam menciptakan gairah untuk suatu grup. Dan berperan dalam menciptakan suatu keharmonisan diantara para anggota grup tersebut.
2. Figur mereka terlihat sebagai orang yang menerima dan melaksakan sesuatu dengan tenang. Mereka pandai menutupi sesuatu sehingga mereka kelihatan selalu riang, damai dan tidak punya masalah sama sekali. Tapi kalau tidak tahan, mereka pasti akan mencari tempat atau orang untuk curhat (tempat mengadu).
3. Mereka biasanya pemurah (baik hati), senang berbuat kebajikan. Mereka dermawan dan tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk orang lain.
4. Mereka biasanya di cintai oleh semua orang, “loved by all”. Tapi mereka sebenarnya keras kepala juga, dan secara rahasia mempunyai pendapatnya sendiri tentang berbagai hal.
5. Dilain pihak, mereka sangat fleksibel dan sangat mudah menerima hal-hal yang baru.
6. Mereka cenderung mudah di pengaruhi oleh orang lain dan oleh apa yang mereka lihat dari TV.
7. Mereka terlihat berkepala dingin dan terpercaya tapi mereka sering tergelincir dan membuat kesalahan yang besar karena kurang berhati-hati. Tapi hal itu yang menyebabkan orang yang bergolongan darah O ini di cintai.

Gologan darah AB
1. Orang yang bergolongan darah AB ini mempunyai perasaan yang sensitif, lembut.
2. Mereka penuh perhatian dengan perasaan orang lain dan selalu menghadapi orang lain dengan kepedulian serta kehati-hatian.
3. Disamping itu mereka keras dengan diri mereka sendiri juga dengan orang-orang yang dekat dengannya.
4. Mereka jadi cenderung kelihatan mempunyai dua kepribadian.
5. Mereka sering menjadi orang yang sentimen dan memikirkan sesuatu terlalu dalam.
6. Mereka mempunyai banyak teman, tapi mereka membutuhkan waktu untuk menyendiri untuk memikirkan persoalan-persoalan mereka.

Minggu, 16 Oktober 2011

Peter Sanders, Raja Fotografi yang Menemukan Islam
Kamis, 01 Juli 2010 08:49 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--"Fotografi telah mengenalkan Islam kepada Barat," begitu kata Peter Sanders, fotografer kelas dunia yang juga pemilik Peter Sanders Photography Library seperti dikutip harian Al-Watan edisi 29 Januari 2008. Sanders menyatakan bahwa masyarakat Barat banyak yang tak tahu dan tak mengenal Islam secara benar.

Namun, peristiwa 11 September 2001 telah membawa masyarakat Barat untuk mengetahui Islam yang sebenarnya secara lebih mendetail. Termasuk, melalui hasil karya seni atau fotografi, seperti yang dihasilkannya. Karena, menurut Sanders, hasil fotografi yang indah akan lebih cepat memperkenalkan Islam kepada masyarakat Barat.

Sebagai salah satu fotografer legendaris dan ternama, Sanders terbilang unik. Ia tak pernah mengenyam pendidikan fotografi, sebagaimana umumnya para fotografer profesional. Sanders hanya belajar fotografi secara autodidak.

Kursus fotografi pertama Sanders justru dilakukan akhir 1990 di Swiss atau tiga dasawarsa setelah ia malang melintang di jagat fotografi. "Itu pun karena saya mendapat proyek di Arab Saudi yang menuntut penggunaan kamera format besar," tuturnya. Sanders muda mengaku sering kesulitan uang. Tapi, ia berani berspekulasi dengan menjadi seorang fotografer. Ia menjajakan karya-karyanya ke penerbitan, koran, majalah, atau sampul album musik.

Sanders mengaku terjun ke dunia fotografi hanya menuruti panggilan hatinya. Sebab, ia tak memiliki kemampuan dan keahlian yang bisa diandalkan. Lantaran hobi, ia merasa bakal mampu survive di dunia fotografi kendati tanpa harus memiliki titel mentereng.

Saat ini, Sanders memiliki Peter Sanders Photography Library. Ini semacam pepustakaan yang mendokumentasi karya Sanders sepanjang 39 tahun kariernya di dunia Muslim. Ada lebih dari 250 ribu foto dalam bentuk digital di situ. Ia menjualnya untuk keperluan majalah atau buku-buku tentang Islam.

Dunia fotografi profesional sudah Sanders tekuni lebih dari 50 tahun lamanya. Namun, tidak demikian dengan dunia spiritualnya saat ini. Sang fotografer kawakan kelahiran London, Inggris, 64 tahun silam ini memang tidak dilahirkan dari keluarga Muslim. Agama Islam sendiri baru dikenalnya pada saat ia melakukan perjalanan ke India pada 1970.

Ia mulai berkarier dalam dunia fotografi pada pertengan tahun 1960-an. Saat itu, fotografi yang sedang ngetrend adalah mengabadikan bintang-bintang musik terkenal. Begitu juga dengan Sanders. Ia berdiri di bibir panggung para superstar hanya untuk mengabadikan aksi panggung Bob Dylan, Jimi Hendrix, The Doors, The Who, atau Rolling Stones.

Namun, Sanders merasa jiwanya kering. Kejenuhan akan objek yang itu-itu saja dan persepsinya terhadap fotografi akhirnya membawa dia pada sebuah perjalanan yang rumit. Ia merasa dunia fotografi semakin tak menantang. Hal itu membuatnya semakin gelisah. Maka, pada 1970, ia mengembara hingga ke India.

Perjalanan ini pun membawa Sanders pada dunia yang belum pernah dikenalnya. Ia mulai mengenal Islam dan mencoba mempelajarinya. Semakin lama, ia makin terpesona dengan keindahan Islam. "Ketika itu, usia saya baru menginjak 24 tahun. Saya bertanya tentang mati. Usaikah diri kita setelah mati? Pertanyaan itu terus menghantui saya. Saya pergi ke India. Saya belajar Hindu, Buddha, Sikh, dan Islam," ungkapnya mengkisahkan awal mula perjalanannya menemukan Islam.

Saat berada di India, Sanders mengalami peristiwa yang amat berkesan. Pada suatu pagi, saat tengah menunggu kereta api di stasiun yang penuh dengan orang dan hiruk pikuk keramaian, seorang ibu tiba-tiba menggelar tikar di dekatnya. Ibu tersebut lantas melakukan gerakan shalat di situ. Hal ini mengejutkan Sanders. Sebab, selama ini dia memang belum pernah melihat orang shalat.

Kemudian, Sanders bertanya kepada seorang anak muda yang berdiri di dekatnya. "Apakah ini?" Anak muda tersebut menjawab, "Ini nenek saya. Dia seorang Muslim. Ia sedang shalat." Momen tersebut terus terekam dalam ingatannya.

Setelah perjalanan ke India tersebut, ia kembali ke Inggris dan mendapati teman-teman lamanya banyak yang terjerumus dalam penggunaan narkoba. Namun, beberapa orang temannya ada yang menjadi Muslim dan terhindar dari dunia narkoba dan kehidupan malam. Dari sini, ia seakan mendapatkan petunjuk. "Inilah jalan yang harus saya tempuh." Begitu batinnya mengatakan. Akhirnya, ia memutuskan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Abd al-Adheem.

Di sebuah koran beberapa tahun lalu, Sanders membuka rahasia mengapa ia memilih Islam. Menurutnya, tak ada yang menariknya kepada agama yang dibawa Nabi Muhammad SAW, selain yang menciptakan manusia. "Tuhanlah yang memilihkan untuk saya," katanya.

Maka, seusai mendeklarasikan keislamannya ini, Sanders tampak makin bersahaja. Ia tak lagi merasa kering dan gersangnya hati. Islam memberi roh pada pekerjaannya. Islam juga mengilhaminya pada sebuah jalan baru untuk makin menekuni dunia fotografi, namun dengan objek yang berbeda.

Tahun itu juga, Sanders memutuskan pensiun menjadi fotografer selebriti. Ia memulai pengembaraannya ke negeri-negeri Muslim. Tiga bulan setelah masuk Islam, ia berkesempatan menunaikan ibadah haji ke Makkah atas biaya dari seorang kenalannya.

Saat menunaikan ibadah haji, Sanders mendapat kesempatan untuk memotret Ka'bah dan lautan jamaah haji dari jarak dekat. Pada tahun 1971, saat itu masih terbilang sulit untuk bisa mengambil gambar di Makkah dan Ka'bah pada khususnya serta lokasi lain di Arab Saudi.
Namun, berkat keuletannya, dia mendapatkan izin dari orang yang tepat dan terpandang di Arab Saudi saat itu.

Foto-foto perjalanan spiritualnya dimuat di media-media utama Barat untuk pertama kalinya, seperti The Sunday Times Magazine dan The Observer. Dan, mulai saat itulah, Peter Sander alias Abd AlAdheem makin terkenal.

republika.co.id

Senin, 10 Oktober 2011

Jujurlah padaku ini Cinta atau Nafsu?

          Mudah-mudahan saya tidak sok tahu, bahwa cinta antara dua insane di masa remaja yang lembab ini adalah cinta, yang masih terikat dengan dualism karakter: kekanakan yang menajam dan kedewasaan yang menjanin. Begitulah, meski kekanakan dan kedewasaan akan tetap menjadi warna bagi seorang manusia selama hidupnya. Warna yang bila dibingkai dalam keridhaan Allah, akan menjadi warna-warni surgawi.

“Celupan warna Allah, dan siapakah yang lebih baik celupan warnanya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nyalah kami menyembah. (Al Baqarah 138)

          Kalau cinta semasa ini memerlukan definisi, biarlah Al Imam Ibnu Dawud Azh Zhahiri memberikannya untuk kita. “Cinta…”, kata beliau, “Adalah cermin bagi orang yang sedang jatuh cinta untuk mengetahui watak dan kelemahlembutan dirinya dalam citra kekasihnya. Karena sebenarnya ia tidak jatuh cinta kecuali kepada dirinya sendiri.”

Sayang ada rekan-rekan syaithan yang mencemarkan nama baik cinta para remaja. Sesuatu yang diungkapkan oleh Gus lip Wijayanto sebagai ‘Pemerkosaan Atas Nama Cinta’. Atau jauh sebelumnya, digambarkan oleh dr. Ali Akbar sebagai ucapan seorang pemuda, “Aku mencintaimu..”, tetapi sebenarnya berbunyi, “Aku ingin berzina denganmu...”

          Maka jujurlah padaku…, ini cinta atau nafsu?


          Kalimat-kalimat indah diatas merupakan salah satu kalimat yang ku kutip dari buku Mas Salim A. Fillah yang berjudul “Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan”. mungkin kalian ada yang pernah membacanya, Dua jempol deh buat Mas Salim, hee…?

Yang terlewatkan…

Pernahkah terpikirkan oleh kita, Apa yang kita ucapkan dan apa yang kita lakukan,
Ternyata adalah sebuah ambisi buta atas kesombongan diri yang mungkin jarang dari kita untuk dapat menyadarinya…. 

kita sangat pandai berbicara, tapi pernahkah kita memposisikan diri pada mereka yang mendengarkan apa yang kita ucapkan…??
Kita pandai bertingkah dan tercipta tawa kebanggaan, tapi apakah tawa itu tercipta pada orang yang melihat tingkah kita…??

Ini adalah sesuatu yang sulit untuk disadari, entah bagian dari tubuh mana yang harus direnovasi agar kita mengerti….
Apakah tetap menciptakan bahasa dan lakon diri yang sebenarnya itu adalah aib, dan kita tetap berbangga diri atas aib itu.

Maaf…
Hehehe.. judul edisi gaulislam ke-194 ini cukup singkat. Satu kata: Maaf. Biarin deh sekali-kali simpel. Mudah dipahami. Semoga saja buka judul yang absurd. Hmm… gampang nggak sih kita ngasih maaf kalo ada temen kita yang minta maaf sama kita? Hmm.. gimana ya, apalagi doi tuh udah nyakitin kita banget. Kayaknya nggak gampang deh kalo kita langsung nerima permintaan maafnya. Menyembuhkan luka batin atau nyembuhin perasaan itu katanya sih lebih sulit ketimbang nyembuhin luka fisik. Bagi banyak orang, katanya sih lebih baik tubuh tertusuk pedang ketimbang ditusuk lidah dengan omongan yang nggak enak en nggak sedap. Mungkin bener juga kali ya kalo Bung Meggy Z semasa hidupnya sempat berdendang: “Kalau terbakar api, kalau tertusuk duri, mungkin masih dapat kutahan. Tapi ini.. sakit lebih sakit, kecewa karena cinta…. Daripada sakit hati, lebih baik sakit gigi ini, biar tak mengapa…” (ih, kalo saya sih nggak kepengen dua-duanya tuh!)

Sobat muda muslim, ngasih maaf kepada orang yang udah nyakitin perasaan kita tuh rasa sakitnya kadang nggak bisa ditelan oleh waktu (duilee lebay mode “on”). Gimana nggak, kita suka gondok kalo ada teman yang udah ngerendahin kita misalnya. Apalagi di depan banyak orang. Wuih, dendamnya bisa delapan turunan tuh. Iya, nyebelin nggak sih kalo kita misalnya minta diajarin ngaji Quran, terus doi ngomentarin: “Udah gede kayak gini masih belum bisa baca Quran? Kalah ama adek gue tuh yang masih SD!” Waduh, kalo di film kartun tuh muka kita udah merah padam dan keluar asap dari idung (banteng kalee…)

Mungkin wajar kalo kita gondok abis kalo dihina. Mendingan dipukul pake kayu atau benda lainnya kali ya daripada dirajam pake kata-kata hinaan di depan banyak orang pula. Malu, kesel, dan juga marah sama orang yang model begitu. Nah, suatu ketika doi minta maaf nih sama kita. Hmm.. kayaknya sampe sujud juga nggak bakalan dikasih kali tuh. Mau nangis darah dan ngesot-ngesot juga kayaknya nggak bakalan dikasih maaf. Saking kesel dan gondoknya tentu.

Bro en Sis ‘penggila’ gaulislam, kasus lainnya adalah meminta maaf. Ini juga hampir sama sulitnya dengan ngasih maaf. Gimana nggak, kadang gengsi juga bikin kita malas minta maaf. Apalagi mungkin menurut kita hal itu sepele. Jangan salah, banyak lho orang yang sulit meminta maaf. Kayaknya tuh lidah udah dipaku sehingga satu kata pernyataan maaf pun tak keluar dari mulut kita. Kita cuek dan merasa benar sendiri. Kita jadi gengsi dan merasa tak perlu meminta maaf, apalagi kepada orang yang levelnya lebih rendah dari kita. Kita khawatir menjadi rendah di hadapan orang yang kita anggap status sosial maupun intelektualitasnya di bawah kita (ah, masa’ iya sih?)


Jangan jadi pendendam

Sobat muda muslim, ngasih maaf dan meminta maaf seharusnya menjadi budaya yang baik di antara kita. Apa sih susahnya ngasih maaf, dan apa sih sulitnya minta maaf? Rasa-rasanya, itu hal yang kecil tapi dibesar-besarkan deh. Suer, Allah saja Maha Pengampun kepada hambaNya (kecuali kepada yang menyekutukanNya), masa’ sih kita kejam dan nggak mau sedikit pun ngasih maaf kepada teman kita. Dan, apakah kita udah ngerasa benar dan sempurna banget di hadapan manusia lain sehingga nggak perlu minta maaf? Rasulullah saw. saja mengajarkan bagaimana menghormati sahabat-sahabatnya. Tentu saja, jika beliau mau menghormati dan lemah-lembut kepada sahabatnya, maka sudah bisa dipastikan bahwa beliau pun mau dan biasa meminta maaf kepada sahabat-sahabatnya. Di dalam ash-Shahihain dari hadis Aisyah ra, dari Nabi saw., beliau bersabda (yang artinya): “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla menyukai kelemah-lembutan dalam segala urusan.”(HR Bukhari dan Muslim)

Gondok sama orang boleh aja. Tapi bukan berarti harus terus-terusan dipelihara. Selain capek ati, juga kita jadi keras hati. Salah-salah malah jadi pendendam. Memang sakit banget kalo dihina sama seseorang. Kita bisa kecewa jika dikhianati, kita bisa muak jika dibohongi. Tapi, bukan berarti kita terus memendam perasaan itu apalagi berniat tak akan pernah memaafkannya sampe delapan turunan (bosen nih tujuh turunan mulu!).

Sobat, di dunia ini memang penuh lika-liku kehidupan. Ada suka ada duka, ada kecewa ada bahagia, ada pengkhianatan ada pembelaan, ada kebohongan ada kejujuran. Kita pernah merasakannya, atau bahkan memberikan ketidaksukaan kepada orang lain. Kecewa boleh, sakit hati boleh, tapi jika hal itu dipelihara dalam kurun waktu yang lama, bahkan diabadikan dalam ruang batin kita, tentunya akan menyiksa kita. Selain itu, kita akan terus selamanya mendendam kepada orang yang telah melukai perasaan kita. Dampak lainnya kita bisa saja jadi orang yang traumatis, frustasi dan mungkin saja minder karena telah dihinakan oleh orang lain. Akibatnya, yang menjadi masalah bukan benar-salah, melainkan apa untungnya dan apa ruginya buat kita.

Jika benar-salah bukan lagi pertimbangan, tapi yang jadi pertimbangan adalah untung-rugi apa jadinya dunia ini? Padahal, bisa jadi memang dia salah kepada kita. Tapi, apakah dia akan selamanya salah? Nggak juga kan? Sama seperti kita, apa ketika kita berbuat benar, kemudian selamanya akan benar? Nggak ada jaminan kan? Kita juga nggak mau kan dianggap salah terus, padahal kita udah berusaha untuk menjadi lebih baik? Nah, cobalah dipikir ulang soal ini.

Nggak usah merasa turun derajat kalo kita memaafkan teman yang udah berbuat salah sama kita. Tak perlu merasa rugi hanya dengan memberi maaf kepada teman yang telah melukai perasaan kita. Memang, ada yang bilang bahwa waktu bisa menyembuhkan luka, tapi kita tak akan pernah lupa pada sakitnya. Pernyataan itu boleh-boleh aja sih, tapi apa iya kita akan begitu tega kalo ada orang yang mau minta maaf sama kita terus kita cuekkin dengan alasan nggak ada untung?

Boys and girls pembaca setia gaulislam, Rasulullah saw. pernah menyampaikan sabdanya: “Shadaqah tidak mengurangi sebagian dari harta, dan Allah tidak menambah kepada seorang hamba karena maaf melainkan kemuliaan, dan seseorang tidak bertawadhu’ karena Allah, melainkan Allah meninggikannya.” (dalam kitab Minhajul Qashidin, karya Ibnu Qudamah, hlm. 233)

Dari Uqbah bin Amir, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzhalimimu.” (HR Ahmad, al-Hakim, dan al-Baghawy)

Subhanallah, Rasulullah saw. telah mengajarkan kita untuk lemah-lembut, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita. Kita ngasih maaf kepada orang yang udah ngelukain hati kita. Hebat. Padahal, banyak di antara kita yang masih gengsi karena ego kita yang gede banget. Ngerasa hal itu amat hina jika dilakukan. Tapi Rasulullah saw., yang lebih mulia dari kita, mengajarkan kita untuk gampang ngasih maaf, bahkan kepada orang yang telah menzhalimi kita.

Sobat muda muslim, ketika kita meyakini bahwa dendam, sakit hati, dan kebencian adalah jawaban paling benar di dunia ini–dan itu satu-satunya jawaban–maka pengetahuan, pengalaman, dan kesadaran kita akan kalah, tak berguna, dan lumpuh total.

Boleh dibilang pengetahuan adalah sumber petunjuk, pengalaman adalah guru, dan kesadaran adalah reminders alias peringatan, namun hal itu belum cukup. Sebab, pengetahuan kita akan menunjukkan kita jika kita mau menerima petunjuknya, pengalaman akan menjadi guru kalo kita mau belajar kepadanya, dan kesadaran akan menjadi reminder kalo kita mendengarkannya.

Nah, nggak mungkin kan selamanya kita dendam sama orang? Emang sih, sebelum kita tahu banyak hal tentang kehidupan dunia ini, kayaknya kitalah yang ngerasa paling benar atas apa yang kita lakukan. Kita menghibur diri kita bahwa kita wajar ngelakuin apa pun yang kita suka. Termasuk menjadi pendendam. Tapi ketika begitu banyak menyimak ‘hikmah’ dari segala peristiwa di dunia ini, kita mulai sadar. Kita akan lebih bijak menikmati dunia ini. Pengetahuan, pengalaman, dan kesadaran kita akan menjadikan kita dewasa dan bukan mustahil kalo akhirnya kita mau menerima perbedaan, mau mengampuni orang-orang yang telah berbuat buruk kepada kita. Karena kita tahu dan yakin, bahwa tak selamanya manusia itu buruk, dan tak selalu manusia itu berbuat baik. Manusia tuh dinamis. Asal kita mau mengubah (kepada kebaikan tentunya), insya Allah bisa. Tul nggak?

Oya, kalo kita masih merasa benar sendiri, berarti kita belum belajar dari pengetahuan yang udah kita dapetin, kita belum ngambil pengalaman dan mengikuti peringatan. Hawa nafsu atau ego kita belum terkalahkan. Hmm… jadi inget doktrinnya Samurai yang mengajarkan: “winning first than fighting” (taklukkan nafsumu lebih dahulu, baru bertempur). Doktrin militer menggariskan: “be warrior than soldier” (jadilah jagoan lebih dahulu, baru bergabung menjadi pasukan tempur). Jan Christian Smuts mengingatkan: “Orang tidak kalah oleh lawannya melainkan kalah oleh dirinya” (bisa dibaca lebih lengkap dalam: www.e-psikologi.com; pembahasan: penyembuhan luka batin bagi orang dewasa)

Ngomong-ngomong soal hawa nafsu dan ego kita, jadi inget kisahnya Umar bin Khaththab ra yang urung menghajar orang yang telah mencelanya. Sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat al-Bukhari, dari hadis Ibnu Abbas ra, bahwa ada seseorang yang meminta izin untuk bertemu Umar bin Khaththab. Setelah orang itu diizinkan, dia berkata, “Wahai Ibnul-Khaththab, demi Allah, engkau tidak memberi kami yang banyak dan tidak membuat keputusan di antara kami secara adil”.

Umar pun marah besar mendengarnya, bahkan hampir saja dia memukulnya. Al-Hurr bin Qais segera berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya Allah pernah berfirman kepada Nabi saw., ‘Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh’ (QS al-A’raaf [7]: 199). Dia adalah termasuk orang-orang yang bodoh.”

Maka Umar pun mengurungkan niatnya untuk menghajar orang itu setelah dibacakan ayat ini. Setelah itu pikirannya terus menerawang terhadap Kitab Allah. (Ibnu Qudamah, Minhajul Qashidin, hlm. 228)

Sobat muda pembaca setia gaulislam, kalo udah jadi orang yang pendendam biasanya kita akan memikirkan terus masa lalu kita. Kita akan tetap merasa kecewa dan sakit hati kepada mereka yang telah melukai perasaan kita. Kita akan memeliharanya dalam jangka waktu lama. Kita tetap begitu, padahal orang lain sudah berubah. Setiap kali inget orang yang telah menzhalimi kita, kita bertambah sebal dan rajin menyiapkan strategi untuk membalas luka di hati kita. Kalo setiap saat kita begitu, bisa-bisa bikin stres deh. Suer. Hidup ini untuk dinikmati dengan benar dan baik. Bukan dengan stres. Mulailah bersikap dewasa dan menghargai setiap perubahan. Ya, kita harus menghargai. Kalo dulu teman kita menghina kita, tapi kini ketika dia meminta maaf kepada kita, berarti insya Allah dia udah mulai berubah. Setidaknya ingin menghapus kejahatannya kepada kita.

Eh, jangan salah lho. Hidup ini untuk dinikmati, bukan untuk dibikin terus susah, entar stres lho. Tapi, kalo pun kamu udah terlanjur stres karena jadi pendendam (dan belum kesampaian balas dendam), ada baiknya ngikutin saran Dr. Denis Waitley, tentang cara positif untuk mengatasi stres adalah: a) jangan mengubah sesuatu yang sudah tidak bisa diubah lagi, seperti masa lalu, dan lain-lain, b) ubahlah apa yang masih bisa anda ubah dengan cara melakukan sesuatu, seperti misalnya menggunakan hari ini seoptimal mungkin, dan c) hindarkan diri anda melakukan sesuatu yang akibatnya bisa membuat anda stres di masa depan, seperti misalnya membiarkan hari ini tanpa melakukan apapun. (www.e-psikologi.com, idem)

Bro en Sis, semoga kita gampang memaafkan orang yang telah menzhalimi kita sekalipun. Semoga Allah memberikan kemudahan kepada kita untuk sabar, lemah lembut, dan pemaaf. Oya, sikap pemaaf adalah suka memberi maaf terhadap kesalahan orang lain tanpa ada sedikitpun rasa benci dan keinginan untuk membalas. Dalam bahasa Arab sifat pemaaf tersebut disebut dengan al-‘afwu yang secara etimologis berarti kelebihan atau yang berlebih, sebagai mana yang terdapat dalam ayat: “Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang berlebih dari keperluan…” (QS al-Baqarah [2]: 219)

Penjelasannya nih, yang berlebih seharusnya diberikan agar keluar. Dari pengertian mengeluarkan yang berlebih itu, kata al-‘afwu kemudian berkembang maknanya menjadi menghapus. Dalam konteks bahasa ini memaafkan berarti menghapus luka atau bekas-bekas luka yang ada di dalam hati. (M. Quraish Shihab, Wawasan al-Quran (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 247)

Oke, itu sebabnya menjadi pendendam itu nggak baik. Nggak ada untungnya juga. Dalam buku Kuliah Akhlaq karya Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc, MA, yang pernah saya baca, dicantumkan hadits yang menyebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Tidaklah halal bagi seorang Muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari; keduanya bertemu tapi saling memalingkan mukanya. Dan yang paling baik di antara keduanya ialah yang memulai lebih dahulu mengucapkan salam” (Muttafaqun ‘Alaihi)

Jadi, mulai sekarang berlapang dadalah. Juga harus ngakuin bahwa setiap manusia pasti punya kesalahan. Permintaan maaf itu sebagai bukti bahwa ia pernah berbuat salah ingin menebusnya. Karena definisi dari maaf sendiri adalah pembebasan seseorang dari hukuman (tuntutan, denda, dsb) karena suatu kesalahan (Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Ketiga, cetakan ke-3, 2003, hlm. 693). Mau kan kita mengampuni mereka yang telah berbuat salah kepada kita?

Nah, kita juga bisa jadi pernah (atau bahkan sering?) berbuat salah, dan orang lain juga pernah berbuat salah dan menyakitkan kepada kita. Itu sebabnya, kita harus mengakui kenyataan ini dan berusaha untuk bersikap bijak. Tak ada manusia yang terus berbuat salah dan tak ada manusia yang selamanya berbuat baik. Dengan demikian, yang lebih oke adalah mereka yang saling memaafkan dengan sesamanya. 

gaulislam.com